Pertumbuhan ekonomi Indonesia
dari tahun 2012-2014

Tahun
2012
Badan Pusat Statistik
(BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2012 sebesar 6,23
persen. Angka tersebut turun dibandingkan sepanjang 2011 sebesar 6,5 persen.
Kepala BPS Suryamin menjelaskan pertumbuhan ekonomi di kuartal IV-2012 sebesar
6,11 persen, turun tipis 1,45 persen dibanding kuartal III-2011 sebesar 6,17
persen. "Penurunan pada kuartal IV-2012 ini disebabkan sektor pertanian
mengalami penurunan cukup signifikan sebesar 23,06 persen karena siklus
musiman," kata Suryamin di kantornya, Jakarta, Selasa (5/2/2013). Menurut
Suryamin, pertumbuhan terjadi di semua sektor ekonomi dengan pertumbuhan
tertinggi di sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 9,98 persen dan
terendah di sektor pertambangan dan penggalian 1,49 persen.
Sementara PDB tanpa
migas tahun 2012 sebesar 6,81 persen. Secara kuartalan, PDB Indonesia kuartal
IV-2012 dibanding kuartal III-2012 mengalami penurunan 1,45 persen. Namun bila
dibanding kuartal IV-2011 mengalami kenaikan dari sebesar 6,11 persen.
Sementara sektor penunjang di kuartal IV-2012 adalah sektor konstruksi tumbuh
4,02 persen, sektor listrik, gas dan air bersih tumbuh 3,34 persen, sektor
perdagangan, hotel dan restoran 2,74 persen, sektor pengangkutan dan komunikasi
tumbuh 2 persen, sektor jasa 1,96 persen, sektor industri pengolahan tumbuh
1,41 persen, sektor keuangan, real estate dan jasa perusahaan 1,23 persen dan
sektor pertambangan dan penggalian 0,2 persen. Sedangkan jumlah total produk
domestik bruto (PDB) sepanjang 2012 adalah Rp 8.241,9 triliun, sementara Atas
Dasar Harga Berlaku (ADHB) adalah Rp 2.618,1 triliun.
Dari sisi komponen
pertumbuhan ekonomi di 2012 adalah konsumsi tumbuh 5,28 persen, belanja
pemerintah 1,25 persen, pembentukan modal tetap bruto atau investasi tumbuh 9,8
persen, ekspor tumbuh 2,01 persen dan impor 6,65 persen. "Karena ada
moratorium PNS, sehingga belanja pemerintah tidak terlalu tinggi. Ekspor memang
rendah sehingga terjadi defisit. Jadi penopang utama pertumbuhan ekonomi 2012
berasal dari konsumsi dan investasi," tambahnya.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pertumbuhan Ekonomi 2012 Hanya 6,23 Persen", https://money.kompas.com/read/2013/02/05/12192140/Pertumbuhan.Ekonomi.2012.Hanya.6.23.Persen.
Penulis : Didik Purwanto
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pertumbuhan Ekonomi 2012 Hanya 6,23 Persen", https://money.kompas.com/read/2013/02/05/12192140/Pertumbuhan.Ekonomi.2012.Hanya.6.23.Persen.
Penulis : Didik Purwanto
Tahun 2013
Pertumbuhan ekonomi
Indonesia terus turun. Setelah mencapai pertumbuhan ekonomi 6,5 persen pada
2011, dan 6,23 persen pada 2012, pertumbuhan ekonomi 2013 berada dibawah 6
persen. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia
sepanjang 2013 sebesar hanya 5,78 persen. Angka tersebut turun dibandingkan
sepanjang 2013 sebesar 6,23 persen. Kepala BPS Suryamin memaparkan, pertumbuhan
ekonomi di kuartal IV-2013 sebesar 5,72 persen, atau mengalami penurunan 1,42
persen dibanding kuartal III-2013. "Triwulan empat ini dari pengalaman
selalu lebih rendah dibanding triwulan tiga setiap tahunnya," kata
Suryamin, di Kantor BPS, Rabu (5/2/2014). Kendati mengalami penurunan, Suryamin
mengatakan ekspor pada triwulan IV-2013 menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.
Hal ini disebabkan negara-negara yang tadinya terdampak krisis global seperti
China dan Amerika Serikat mulai pulih. Bakan pertumbuhan ekonomi Amerika
Serikat yang tadinya diprediksikan hanya 1,6 persen, realisasinya 1,9 persen.
"Ini artinya perekonomian global berdampak pada ekonomi kita, terutama
untuk ekspor dan sektor lain seperti wisatawan mancanegara," terang dia.
Lebih lanjut dia mengatakan, pertumbuhan
terjadi di semua sektor ekonomi dengan pertumbuhan tertinggi di sektor
pengangkutan dan komunikasi sebesar 10,19 persen, dengan nilai Rp 292,4
triliun. Berturut-turut disusul sektor keuangan, real estate dan jasa
perusahaan dengan pertumbuhan 7,56 persen, dengan nilai Rp 272,1 triliun.
Sektor ketiga yang
mengalami pertumbuhan signifikan adalah konstruksi, di mana mencatat
pertumbuhan 6,57 persen dengan nilai Rp 182,1 triliun. Sementara itu
pertumbuhan sektor pertambangan dan penggalian tercatat paling kecil sebesar
1,34 persen dengan nilai Rp 195,7 triliun. "Gadget membuat pertumbuhan
signifikan di sektor komunikasi menjadi paling tinggi. Pembangunan real estate
positif, demikian juga dengan lembaga keuangan. Konstruksi tumbuh positif
karena ini berkaitan dengan pembangunan infrastruktur dari tahun ke tahun.
Terutama yang dilakukan pemerintah dalam rangka MP3EI," jelas Suryamin.
Sedangkan jumlah total produk domestik bruto (PDB) sepanjang 2013 adalah Rp
9.084 triliun Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB). Sedangkan PDB Atas Dasar Harga
Konstan (tahun 2000) adalah Rp 2.770,3 triliun. Untuk kuartal-IV 2013 sendiri
PDB ADHB sebesar Rp 2.367,9 triliun, dan ADHK sebesar Rp 699,9 triliun. Angka
ini naik dibanding kuartal-IV 2012, dimana PDB ADHB sebesar Rp 2.092,4 triliun,
dan ADHK sebesar Rp 662,1 triliun.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Tahun 2013 Ekonomi Indonesia Hanya 5,78 Persen", https://ekonomi.kompas.com/read/2014/02/05/1221161/Tahun.2013.Ekonomi.Indonesia.Hanya.5.78.Persen.
Penulis : Estu Suryowati
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Tahun 2013 Ekonomi Indonesia Hanya 5,78 Persen", https://ekonomi.kompas.com/read/2014/02/05/1221161/Tahun.2013.Ekonomi.Indonesia.Hanya.5.78.Persen.
Penulis : Estu Suryowati
Tahun 2014
Badan Pusat Statistik
(BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2014, dengan tahun
dasar 2010 sebesar 5,02 persen (kumulatif kuartal I-V). Hal itu tidak sesuai
dengan target pemerintah, yang mematok pertumbuhan ekonomi sepanjang 2014
mencapai 5,5 persen. Sementara itu dibanding periode sama tahun lalu, Produk
Domestik Bruto (PDB) RI tumbuh 5,01 persen.
PDB dengan
perhitungan tahun dasar 2010 ini tercatat mengalami perlambatan. Dengan tahun
dasar sama, pertumbuhan ekonomi pada 2010 sebesar 6,38 persen, sementara itu
pertumbuhan ekonomi pada 2011 sebesar 6,17 persen. Adapun pertumbuhan ekonomi
pada 2012 tercatat sebesar 5,58 persen, sedangkan pada 2014 lalu pertumbuhan ekonomi
Indonesia hanya 5,02 persen. "Peran paling tinggi adalah industri
pengolahan dengan share sebesar 21,02 persen, pertumbuhannya 4,63 persen,"
ucap Kepala BPS Suryamin, dalam paparan, Kamis (5/2/2015). Dia menjelaskan, ada
peningkatan pada industri makanan dan minuman dipicu kampanye.
Industri percetakan juga mengalami pertumbuhan
signifikan, termasuk industri logam, industri barang bukan logam, serta
industri permesinan. Pada tahun 2013 industri pengolahan hanya tumbuh 4,49
persen. Pada 2014 lalu, perdagangan dengan share 13,38 persen mengalami
pertumbuhan 4,48 persen. Sementara itu sektor pertanian dengan share sama,
tumbuh 4,18 persen. "Pertumbuhan pertanian dibanding 2013 sedikit menurun
tapi masih stabil, dipicu subsektor perkebunan, di mana masih ada permintaan
tinggi meski harga CPO turun. Perikanan dan hortikultura masih cukup bagus,
sehingga masih stabil," imbuh Suryamin.
Adapun sektor
konstruksi dengan share 9,88 persen mengalami pertumbuhan 6,97 persen pada 2014
lalu. Ini disebabkan dampak pembangunan yang dilakukan sejak 2014 seperti
hotel, pelabuhan, dan jembatan. Pertumbuhan konstruksi meningkat dibanding 2013
yang tercatat tumbuh hanya 6,11 persen. Sementara itu pertambangan dengan share
9,82 persen tumbuh hanya 0,55 persen. Suryamin menuturkan, pertumbuhan sektor
pertambangan yang rendah adalah dampak dari implementasi Undang-Undang No.4
tahun 2009 tentang Mineral Tambang dan Batubara. Pada 2013 lalu, sektor
pertambangan masih tumbuh 1,74 persen.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Meleset dari Target, Pertumbuhan Ekonomi RI 2014 Hanya 5,02 Persen", https://money.kompas.com/read/2015/02/05/114735626/Meleset.dari.Target.Pertumbuhan.Ekonomi.RI.2014.Hanya.5.02.Persen.
Penulis : Estu Suryowati
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Meleset dari Target, Pertumbuhan Ekonomi RI 2014 Hanya 5,02 Persen", https://money.kompas.com/read/2015/02/05/114735626/Meleset.dari.Target.Pertumbuhan.Ekonomi.RI.2014.Hanya.5.02.Persen.
Penulis : Estu Suryowati

Komentar
Posting Komentar